Mikrofon Dimatikan Saat Demokrat Interupsi

Sekretaris Jenderal DPR Indra Iskandar menyampaikan, pimpinan DPR mematikan mikrofon sementara Fraksi Partai Demokrat memberikan interupsi di dalam Rapat Paripurna Pengesahan Omnibus Law RUU Cipta Kerja untuk merawat ketertiban peserta rapat sementara memberikan pendapat.

“Semua diberikan sementara untuk berbicara, bergantian. Jika hingga dimatikan Mikrofon mic meja rapat, itu hanya untuk menertibkan lantas lintas interupsi, pimpinan memiliki hak mengatur jalannya rapat,” kata Indra.

Indra mengatakan, Rapat Paripurna tersebut dipimpin Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin. Aziz, kata Indra, sempat berkompetisi pendapat bersama dengan anggota Fraksi Partai Demokrat Benny K Harman.

Menurut Indra, Benny merasa tidak diberikan hak berbicara. Sementara itu, Azis membuktikan bahwa Fraksi Partai Demokrat telah diberi tiga kali kesempatan berbicara di dalam rapat paripurna tersebut yaitu, Sekretaris Fraksi Partai Demokrat Marwan Cik Hasan, dan anggota Fraksi Demokrat Irwan Fecho dan Didi Irawadi. Indra menilai, di dalam konteks tersebut pimpinan rapat tidak mengupayakan menghalangi Fraksi Partai Demokrat untuk memberikan pendapat.

Indra juga mengatakan, mikrofon di ruang rapat paripurna DPR RI telah diatur otomatis mati sesudah lima menit digunakan sehingga tiap-tiap anggota memiliki sementara berbicara yang mirip di dalam rapat. “Supaya tidak ada tabrakan audio yang menyebabkan hang, maka wajib diatur lantas lintas pembicaraan,” kata dia.

Sebelumnya diberitakan, Fraksi Partai Demokrat menentukan walk out dari Rapat Paripurna berkaitan pengesahan Omnibus Law RUU Cipta Kerja di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Hal ini berawal ketika Wakil Ketua Azis Syamsuddin menyatakan bahwa semua fraksi telah memberikan sikapnya berkaitan RUU Cipta Kerja.

Oleh dikarenakan itu, pimpinan DPR sanggup meminta persetujuan tingkat II sehingga RUU Cipta Kerja disahkan menjadi UU. Namun, Benny laksanakan interupsi. Azis sebagai pimpinan rapat tidak menambahkan kesempatan bagi Benny untuk berbicara.

Saat itu, Azis menyatakan bahwa tiap tiap fraksi telah diberikan kesempatan untuk memberikan sikap. “Nanti Pak Benny, sesudah saya,” kata Azis. “Tolong sebelum saat dilanjutkan beri kita kesempatan,” kata Benny. Azis juga mengatakan, kalau Benny bersikeras laksanakan interupsi, ia dapat dikeluarkan dari Rapat Paripurna.